Sabtu, 13 November 2010

IMPLEMENTASI METODE BERCERITA SEBAGAI METODOLOGI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA ANAK USIA PRA-SEKOLAH

BAB I
PENDAHULUAN

Setiap manusia membutuhkan pegangan hidup yang disebut agama. Dalam jiwa manusia ada satu perasaan yang mengakui adanya Dzat Yang Maha Kuasa, tempat berlindung dan memohon pertolongan-Nya. Manusia akan merasa tenang dan tentram hatinya kalau dapat mendekat dan mengabdi kepada Dzat Yang Maha Kuasa. Agama mengajarkan manusia agar selalu mendekatkan diri kepada Tuhan. Itulah sebabnya manusia memerlukan pendidikan agama untuk menuntun ibadahnya. Di sisi lain manusia diberi kemampuan untuk membina anak didiknya agar menjadi orang baik dan mempunyai kepribadian yang kuat dan sikap mental yang sehat serta akhlak yang terpuji.
Perkembangan agama sejak usia dini anak-anak memerlukan dorongan dan rangsangan sebagaimana pohon memerlukan air dan pupuk. Minat dan cita-cita anak perlu ditumbuh kembangkan ke arah yang baik dan terpuji melalui pendidikan. Cara memberikan pendidikan atau pengajaran agama haruslah sesuai dengan perkembangan psikologis anak didik. Oleh karena itu dibutuhkan pendidik yang memiliki jiwa pendidik dan agama, supaya segala gerak-geriknya menjadi teladan dan cermin bagi murid-muridnya.
Tingkat usia kanak-kanak merupakan kesempatan pertama yang sangat baik bagi pendidik untuk membina kepribadian anak yang akan menentukan masa depan mereka. Penanaman nila-nilai agama sebaikya dilaksanakan kepada anak pada usia pra-sekolah, sebelum mereka dapat berpikir secara logis dan memahami hal-hal yang abstrak serta belum dapat membedakan hal yang baik dan buruk. Agar semenjak kecil sudah terbiasa dengan nilai-nilai kebaikan dan dapat mengenal Tuhannya yaitu Allah SWT.
Anak didik pada usia Taman Kanak-kanak masih sangat terbatas kemampuannya. Pada umur ini kepribadiannya mulai terbentuk dan ia sangat peka
terhadap tindakan-tindakan orang di sekelilingnya. Pendidikan agama diperlukan untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik misalnya membaca doa tiap kali memulai pekerjaan seperti doa mau makan dan minum, doa naik kendaraan, doa mau pulang, dan lain-lain yang biasa di terapkan dalam kehidupannya sehari-hari. Di samping itu memperkenalkan Tuhan Yang Maha Esa secara sederhana, sesuai dengan kemampuannya.
Metode yang digunakan dalam menyampaikan pendidikan agama pada anak tentu berbeda dengan metode yang dilaksanakan untuk orang dewasa. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Zakiyah Daradjat sebagai berikut: Anak-anak bukanlah orang dewasa yang kecil, kalau kita ingin agar agama mempunyai arti bagi mereka hendaklah disampaikan dengan cara-cara lebih konkrit dengan bahasa yang dipahaminya dan tidak bersifat dogmatik saja.
Cerita adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru kepada murid-muridnya, orang tua kepada anaknya, guru bercerita kepada pendengarnya. Suatu kegiatan yang bersifat seni karena erat kaitannya dengan keindahan dan sandaran kepada kekuatan kata-kata yang dipergunakan untuk mencapai tujuan cerita.
Anak-anak merupakan sosok individu yang mempunyai pikiran yang terbatas dan pengalaman yang sedikit. Mereka hidup dengan akal pikiran dan alam yang nyata, mereka dapat mengetahui dengan salah satu pancaindra, mereka belum dapat memikirkan soal-soal maknawi, soal-soal yang abstrak dan hukum-hukum umum.
Anak-anak itu sangat perasa dengan perasaan yang halus dan mudah terpengaruh. Berkenaan dengan pendidikan agama yang akan diberikan dan ditanamkan ke dalam jiwa anak, orang tua harus dapat memperhatikan kondisi anak di dalam mendidiknya, sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya. Orang tua juga sebagai pendidik harus dapat memikirkan dan memperhatikan tahapan-tahapan di dalam memberikan pendidikan agama pada anaknya.
Menurut Zakiyah Darajat .Anak pada usia pra-sekolah tertarik kepada cerita-cerita pendek seperti cerpen yang berkisah tentang peristiwa yang sering dialaminya atau dekat dengan kehidupannya, terlebih lagi cenderung akan memilih suatu permainan yang bertujuan mendorong anak untuk tertarik dan kagum kepada agama Islam.
Dunia anak adalah dunia pasif ide, maka dalam menunjang kemampuan penyesuaian diri seorang anak membutuhkan rangsangan yang cocok dengan jiwa
mereka. Secara kejiwaan anak-anak ialah manusia yang akrab dengan simbol-simbol kasih sayang orang lain yang ada di sekitarnya, seperti melalui kata-kata sanjungan atau pujian. Guru yang mampu memberikan cerita akan menimbulkan semangat dan pemahaman kepada anak terhadap pelajaran yang diterima dari cerita tersebut.
Jika dikaitkan dengan proses belajar mengajar, maka metode bercerita merupakan salah satu teknik penyampaian yang digunakan dalam proses pendidikan di Taman Kanak-kanak yang mempunyai kelebihan dan kekurangan. Dengan teknik yang bervariasi dalam penyampaian materi pelajaran akan membantu guru dalam melaksanakan tugas secara baik. Oleh sebab itu, metode bercerita adalah salah satu pemberian pengalaman belajar bagi anak Taman Kanak-kanak dengan membawakan cerita kepada anak secara lisan.

BAB II
IMPLEMENTASI METODE BERCERITA SEBAGAI METODOLOGI
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA ANAK USIA PRA-SEKOLAH

A. Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Sebelum penulis mengemukakan tentang pengertian Pendidikan Agama Islam, terlebih dahulu didefinisikan kata pendidikan. Pendidikan dalam bahasa Inggris disebut dengan education yang berarti pengembangan atau bimbingan, sedangkan dalam Bahasa Arab sering diterjemahkan dengan Tarbiyah. Kata tarbiyah lebih luas konotasinya, yaitu mengandung arti memelihara, membesarkan, dan mendidik, sekaligus mengandung makna mengajar (hadanah).
Ramayulis mendefinisikan pendidikan sebagai .bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja terhadap anak didik oleh orang dewasa agar menjadi dewasa. Sedangkan Menurut Ahmad D. Marimba Pendidikan adalah Bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.
Dengan demikian, pendidikan berarti interaksi dalam diri individu dengan
masyarakat sekitarnya baik dilihat dari segi kecerdasan atau kemampuan, minat maupun pengalaman. Mendidik adalah usaha atau tindakan yang dilakukan secara
sadar dengan bantuan alat pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan, sehingga terbentuk manusia yang bertanggung jawab.
Berdasarkan definisi-definisi tentang pendidikan yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah proses yang terdiri dari usaha yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap si terdidik, baik berupa bimbingan, pengarahan, pembinaan, ataupun latihan. Tujuan yang ingin dicapai adalah membawa si terdidik ke arah terbentuknya kepribadian yang utama, baik jasmani maupun rohani bagi perjalanan hidupnya di masa yang akan datang.
Tentang Pendidikan Islam para ahli mendefinisikannya sebagai berikut: Menurut Ahmad D. Marimba .pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani yang berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.
Menurut Zakiyah Darajat, bahwa .pendidikan agama Islam adalah usaha terhadap anak didik agar kelak dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup.
Zuhairini menyatakan, bahwa pendidikan Islam adalah usaha yang diarahkan kepada pembentukan kepribadian anak yang sesuai dengan ajaran Islam.
Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan agama Islam adalah bimbingan dan asuhan terhadap anak agar nantinya setelah selesai dari pendidikannya dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam yang telah diyakini secara menyeluruh, serta menjadikan ajaran agama Islam itu sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.


2. Dasar Pendidikan Agama Islam
Setiap kegiatan untuk mencapai suatu tujuan harus mempunyai landasan atau dasar tempat berpijak yang baik dan kuat. Oleh karena itu pendidikan agama Islam sebagai sebuah kejayaan juga harus mempunyai landasan atau dasar yang sejalan dengan ajaran al-Qur’an dan Hadits. Untuk lebih jelasnya mengenai dasar-dasar pendidikan Islam, penulis akan menguraikan sebagai berikut:
a. Al-Qur.an
Kedudukan Al-Qur.an sebagai sumber pokok pendidikan Islam dapat dipahami dari ayat Al-Qur’an itu sendiri, Firman Allah :
Artinya : .Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (Q.S. An-Nahl [16] : 64 )
Artinya : .Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah
selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau keduaduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.. (Q.S. Al-Isra. [23] : 66 )
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
Al-Qur’an adalah firman Allah yang berfungsi sebagai mu’jizat (sebagai bukti kebenaran atas Nabi Muhammad SAW) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, yang tertulis di dalam mushaf-mushaf, yang diriwayatkan dengan jalan mutawatir dan dipandang beribadah bagi yang membacanya. Sebagaimana dalam Firman Allah :
"Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (Q.S. An-Nissa [4] : 59)
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang menjadi dasar atau sumber pertama pendidikan agama Islam adalah Al-qur.an yaitu kumpulan firman Allah SWT yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW dan kitab suci ini menjadi sumber hukum yang utama dan berlaku untuk sepanjang masa dalam lingkungan umat Islam. Al-Qur.an sebagai sumber yang selalu digunakan oleh sahabat sejalan dengan firman Allah SWT dalam al-Quran surat An-Nissa ayat 59 yang memerintahkan untuk berbakti kepada Allah dan Rasul Allah dan untuk mengembalikan hal-hal yang diperselisihkan kepada Allah dan Rasulnya.




b. As-Sunnah
Dasar kedua pendidikan Islam adalah As-Sunnah yang mempunyai arti segala yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW berupa perkataan, perbuatan dan ketetapan yang berkaitan dengan hukum. As-Sunnah berisi pedoman untuk kemaslahatan hidup manusia dalam segala aspeknya, untuk membina umat manusia seutuhnya dan muslim yang bertaqwa. As-Sunnah merupakan landasan kedua dengan pembinaan pribadi manusia muslim.
Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa menuntut ilmu maka akan mengetahui adanya Dzat Allah dan sifatnya, akan mengetahui bagaimana cara ibadah, mengetahui haram dan halal, dengan ilmu akan mengetahui adanya tingkah laku hati (perilaku hati) seperti akhlaq terpuji (sabar,syukur, dermawan, budi pekerti, jujur, ikhlas), akhlaq tercela (dendam, dengki, takabur, riya, marah dan bermusuhan).
Seperti dalam Hadits Nabi yang artinya : Menuntut Ilmu wajib bagi setiap orang Islam. Sesunggunya umat manusia akan kekal karena akhlaq, maka apabila akhlaq mereka hilang maka bangsa akan musnah, oleh karena itu yang menolong agama samawi adalah orang Islam. Umat-umat terdahulu selalu tertanamkan urusan yang paling besar adalah Akhlaq, oleh karena itu Nabi bersabda yang artinya: Sesunggunya aku (Muhammad) di utus hanyalah untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.
Dari uraian di atas dapat simpulkan bahwa dasar pendidikan Islam adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah yang memuat dua prinsip dasar yaitu aqidah dan syari’ah. Wilayah syariah mencakup aspek ibadah, muamalah, akhlak dan keilmuan lainnya, sedangkan aqidah mencakup keimanan dan keyakinan, keimanan dengan rukun Iman, Iman kepada Allah, Iman kepada Allah, Iman kepada Malaikat, Iman kepada Kitab-kitab Allah, Iman kepada Rasul, Iman kepada hari akhir, Iman kepada Qadha dan Qadhar.
Selain Al-Qur.an dan As-Sunnah, yang menjadi sumber pendidikan agama
Islam adalah pemahaman para ulama dalam bentuk qiyas syar’i, ijma’ yang diakui, ijtihad dan tafsir yang benar dalam bentuk hasil pengetahuan kemanusiaan dan akhlak, dengan merujuk kepada kedua sumber asal (Al-Qur’an dan As-Sunnah) sebagai sumber utama.

4. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam
Menurut Mahmud Yunus bahwa inti pokok ajaran Islam meliputi masalah
Keimanan (aqidah), masalah Keislaman (syariat), dan masalah Ihsan (akhlak). Tiga inti pokok ajaran ini kemudian dijabarkan dalam bentuk rukun Iman, rukun Islam dan Akhlak. Dari ketiganya lahirlah beberapa keilmuan agama yaitu ilmu tauhid, ilmu fiqh, dan ilmu akhlak.
Ketiga kelompok ilmu Agama itu kemudian dilengkapi dengan pembahasan dasar hukum Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadits, serta ditambah lagi dengan sejarah Islam (tarikh), sehingga menurut Mahmud secara berututan adalah:
a. Ilmu Tauhid / Keimanan
Ilmu Tauhid ini meliputi rukun iman yaitu Iman kepada Allah, Iman kepada malaikat, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada Rosul , iman kepada hari akhir dan iman kepada taqdir.

b. Ilmu Fiqh
Ilmu fiqh ini meliputi : thaharah, shalat, zakat, puasa, haji dan umroh, muamalah, mawaris, munakahat, hudud, jinayat, jihad dan aqdhiyah
c. Al-Qur.an
d. Hadits
e. Akhlak meliputi : akhlak kepada Allah, akhlak kepada Rosul, akhlak lepada orang tua, akhlak kepada diri sendiri, akhlak kepada teman (sesama) dan akhlak kepada lingkungan hidup.
f. Tarikh Islam.
Ruang lingkup pembahasan tergantung pada jenis lembaga pendidikan yang bersangkutan, tujuan dan tingkat kemamapuan anak didik sebagai konsumen.


B. Metode Bercerita
1. Pengertian Metode Bercerita
Metode digunakan sebagai suatu cara dalam menyampaikan suatu pesan atau materi pelajaran kepada anak didik. Metode mengajar yang tidak tepat guna akan menjadi penghalang kelancaran jalannya suatu proses belajar mengajar sehingga banyak waktu dan tenaga terbuang sia-sia. Oleh karena itu metode yang diterapkan oleh guru baru berhasil, jika mampu dipergunakan untuk mencapai tujuan.
Dr. Ahmad Tafsir memberikan pengertian metode adalah cara yang paling
tepat dan cepat dalam melakukan sesuatu.. Sedangkan menurut Sukanto cerita adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru kepada murid-muridnya, ayah kepada anak-anaknya, guru bercerita kepada pendengarnya. Suatu kegiatan yang bersifat seni karena erat kaitannya dengan keindahan dan bersandar kepada kekuatan kata-kata yang dipergunakan untuk mencapai tujuan cerita.
Metode bercerita merupakan salah satu metode yang banyak digunakan di Taman Kanak-kanak. Sebagai suatu metode bercerita mengundang perhatian anak terhadap pendidik sesauai dengan tema pembelajaran. Bila isi cerita dikaitkan dengan dunia kehidupan anak di Taman Kanak kanak, maka mereka dapat memahami isi cerita itu, mereka akan mendengarkannya dengan penuh perhatian, dan dengan mudah dapat menangkap isi cerita.
Menurut Abudin Nata metode bercerita adalah suatu metode yang mempunyai daya tarik yang menyentuh perasaan anak. Islam menyadari sifat alamiah manusia untuk menyenangi cerita yang pengaruhnya besar terhadap perasaan. Oleh karenanya dijadikan sebagai salah satu teknik pendidikan.
Dunia kehidupan anak-anak itu dapat berkaitan dengan lingkungan keluarga, sekolah, dan luar sekolah. Kegiatan bercerita harus diusahakan menjadi pengalaman bagi anak di Taman Kanak-kanak yang bersifat unik dan menarik yang menggetarkan perasaan anak dan memotivasi anak untuk mengikuti cerita sampai tuntas.
Dari pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan metode bercerita adalah menuturkan atau menyampaikan cerita secara lisan kepada anak didik sehingga dengan cerita tersebut dapat disampaikan pesan-pesan yang baik.
Dengan adanya proses belajar mengajar, maka metode bercerita merupakan suatu cara yang dilakukan oleh guru untuk menyampaikan pesan atau materi pelajaran yang disesuaikan dengan kondisi anak didik.

2. Tujuan dan Fungsi Metode Bercerita
a. Tujuan Metode Bercerita
Tujuan metode bercerita adalah agar anak dapat membedakan perbuatan yang baik dan buruk sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bercerita guru dapat menanamkan nilai-nilai Islam pada anak didik, seperti menunjukan perbedaan perbuatan baik dan buruk serta ganjaran dari setiap perbuatan.
Melalui metode bercerita anak diharapkan dapat membedakan perbuatan yang baik dan perbuatan yang buruk sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Asnelli Ilyas bahwa tujuan metode bercerita dalam pendidikan anak adalah .menanamkan akhlak Islamiyah dan perasaan ketuhanan kepada anak dengan harapan melalui pendidikan dapat menggugah anak untuk senantiasa merenung dan berfikir sehingga dapat terwujud dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Hapidin dan Wanda Guranti, tujuan metode bercerita adalah sebagai berikut :
a. Melatih daya tangkap dan daya berpikir
b. Melatih daya konsentrasi
c. Membantu perkembangan fantasi
d. Menciptakan suasana menyenangkan di kelas.
Menurut Abdul Aziz Majid, tujuan metode bercerita adalah sebagai berikut :
a. Menghibur anak dan menyenakan mereka dengan bercerita yang baik
b. Membantu pengetahuan siswa secara umum
c. Mengembangkan imajinasi
d. Mendidik akhlak
e. Mengasah rasa
Sedangkan menurut Moeslichatoen R, bahwa tujuan metode bercerita adalah, salah satu cara yang ditempuh guru untuk memberi pengalaman belajar agar anak memperoleh penguasaan isi cerita yang disampaikan lebih baik. Melalui metode bercerita maka anak akan menyerap pesan-pesan yang dituturkan melalui kegiatan bercerita. Penuturan cerita yang sarat informasi atau nilai-nilai dapat dihayati anak dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kegiatan bercerita anak dibimbing untuk mengembangkan kemampuan untuk mendengarkan cerita dari guru, dengan jelas metode bercerita disajikan kepada anak didik bertujuan agar mereka memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari dan menambahkan rasa cinta anak-anak kepada Allah, Rosul, dan Al-Qur’an.

b. Fungsi Metode Bercerita
Secara umum metode berfungsi sebagai pemberi atau cara yang sebaik mungkin bagi pelaksanaan operasional dari ilmu pendidikan tersebut. Bercerita bukan hanya berfungsi sebagai hiburan tetapi juga merupakan suatu cara yang dapat digunakan dalam mencapai sasaran-sasaran atau target pendidikan.
Metode cerita dapat menjadikan suasana belajar menyenangkan dan menggembirakan dengan penuh dorongan dan motivasi sehingga pelajaran atau materi pendidikan itu dapat dengan mudah diberikan.
Dalam hal ini penulis ingin menyampaikan beberapa fungsi metode cerita:
a. Menanamkan nilai-nilai pendidikan yang baik
Melalui metode bercerita ini sedikit demi sedikit dapat ditanamkan hal-hal yang baik kepada anak didik, dapat berupa cerita para Rosul atau umat-umat terdahulu yang memiliki kepatuhan dan keteladanan. Cerita hendaknya dipilih dan disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai dalam suatu pelajaran.
b. Dapat mengembangkan imajinasi anak
Kisah-kisah yang disajikan dalam sebuah cerita dapat membantu anak didik dalam mengembangkan imajinasi mereka. Dengan hasil imajinasinya diharapkan mereka mampu bertindak seperti tokoh-tokoh dalam cerita yang disajikan oleh guru.
c. Membangkitkan rasa ingin tahu
Mengetahui hal-hal yang baik adalah harapan dari sebuah cerita sehingga rasa ingin tahu tersebut membuat anak berupaya memahami isi cerita. Isi cerita yang dipahami tentu saja akan membawa pengaruh terhadap anak didik dalam menentukan sikapnya.
e. Memahami konsep ajaran Islam secara emosional
Cerita yang bersumber dari Al-Qur.an dan kisah-kisah keluarga muslim diperdengarkan melalui cerita diharapkan anak didik tergerak hatinya untuk mengetahui lebih banyak agamanya dan pada akhirnya terdorong untuk beramal di jalan lurus.

3. Aspek-aspek Metode bercerita
a. Aspek-aspek Bercerita
Salah satu unsur penting dalam seluruh rangkaian dalam efektifitas yang ditempuh dalam upaya pembentukan moral anak melalui cerita adalah memilih tema cerita yang baik untuk disampaikan kepada anak. Berikut ini beberapa definisi mengenai tema:
Tema-tema yang terdapat di dalam cerita banyak dikenal oleh masyarakat dan tidak semuanya baik untuk diceritakan kepada anak-anak. Dan untuk dewasa ini sudah banyak cerita yang diterbitkan. Di antara yang banyak itu pilih cerita yang baik dan berguna. Banyak tema cerita yang diterbitkan yang tidak memiliki pendidikan dan moral. Kisah-kisah yang ditulis hanya untuk merangsang emosi-emosi yang rendah. Tema cerita seperti ini, bukanlah patut disisikan dalam memilih tema.
Secara teoritis ada beberapa aspek yang harus dipertimbangkan dalam memilih tema cerita. Aspek-aspek tersebut di antaranya adalah
a. Aspek Religius (agama)
Dalam memilih tema cerita yang baik, aspek agama ini tidak dapat diabaikan mengingat tema cerita yang dipilih merupakan sarana pembentukan moral. Jika aspek agama ini kurang diperhatikan keberadaanya, maka dikhawatirkan anak akan memperoleh informasi-informasi yang temanya tidak baik, bahkan ada kemungkinan cerita yang demikian dapat merusak moral anak yang sudah baik.
Bagi kalangan keluarga muslim tema cerita yang dipilih tidak hanya karena gaya ceritanya saja, melainkan harus sarat dengan nilai-nilai ajaran Islam. Kini upaya menenggelamkan pengaruh cerita yang temanya tidak baik dan dapat merusak aqidah dan akhlak anak.


b. Aspek Pedagogis (Pendidikan).
Pertimbangan aspek pendidikan dalam memilih tema cerita juga penting, sehingga dari tema cerita diperoleh dua keuntungan, yaitu menghibur dan mendidik anak dalam waktu yang bersamaan. Disinilah letak peran pencerita untuk dapat memilih tema cerita dan menyampaikan pesan-pesan didaktis dalam cerita. Unsur mendidik, baik secara langsung ataupun tidak langsung terimplisit dalam tema dongeng.

c. Aspek Psikologis
Mempertimbangkan aspek psikologis dalam memilih tema cerita sangat membantu perkembangan jiwa anak. Mengingat anak adalah manusia yang sedang berkembang. Maka secara kejiwaan tema cerita pun disesuaikan dengan kemampuan berfikir, kestabilan emosi, kemampuan berbahasa serta tahap perkembangan pengetahuan anak dalam mengahayati cerita tersebut. Cerita yang baik dapat mempengaruhi perkembangan anak.

4. Kelebihan dan Kekurangan Metode Bercerita
Dalam proses belajar mengajar, cerita merupakan salah satu metode yang
terbaik. Dengan adanya metode bercerita diharapkan mampu menyentu jiwa jika
didasari dengan ketulusan hati yang mendalam. Metode bercerita ini diisyaratkan
dalam Al-Qur’an :
"Kami menceritakan kepadamu yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur’an ini kepadamu. Dan sesungguhnya kamu sebelum (Aku mewahyukan) adalah termasuk orang-orang yang lalai .(Q.S.Yusuf 12 : 3)
Kandungan ayat ini mencerminkan bahwa cerita yang ada dalam Al-Qur’an merupakan cerita-cerita pilihan yang mengandung nilai pedagogis.


a. Kelebihan Metode Bercerita
Berikut ini beberapa kelebihan metode bercerita:
1. Kisah dapat mengaktifkan dan membangkitkan semangat anak didik. Karena anak didik akan senatiasa merenungkan makna dan mengikuti berbagai situasi kisah, sehingga anak didik terpengaruh oleh tokoh dan topik kisah tersebut.
2. Mengarahkan semua emosi sehingga menyatu pada satu kesimpulan yang terjadi pada akhir cerita.
3. Kisah selalu memikat, karena mengundang untuk mengikuti peristiwanya dan merenungkan maknanya.
4. Dapat mempengaruhi emosi. Seperti takut, perasaan diawasi, rela, senang, sungkan, atau benci sehingga bergelora dalam lipatan cerita.

b. Kekurangan Metode Bercerita
Berikut ini beberapa kekurangan metode bercerita:
1. Pemahaman anak didik akan menjadi sulit ketika kisah itu telah terakumulasi oleh masalah lain.
2. Bersifat monolog dan dapat menjenuhkan anak didik.
3. Sering terjadi ketidakselarasan isi cerita dengan konteks yang dimaksud sehingga pencapaian tujuan sulit diwujudkan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bercerita merupakan penyampaian materi pelajaran dengan cara menceritakan kronologis terjadinya sebuah peristiwa baik benar atau bersifat fiktif semata. Metode bercerita ini dalam pendidikan agama menggunakan pradigma Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad, sehingga memiliki substansi cerita yang valid tanpa diragukan lagi keabsahannya. Namun terkadang kevalidan sebuah cerita terbentur pada Sumber Daya Manusia (SDM) yang menyampaikan cerita itu sendiri sehingga terjadi banyak kelemahannya.


BAB III
PENUTUP

a. Simpulan
Simpulan yang dapat penulis paparkan mengenai pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut :
Pelaksanaan pendidikan agama Islam melalui metode bercerita di Taman Kanak-kanak dengan cara menyajikan cerita-cerita bersifat umum yang bernuansa Islami membuat anak didik memperhatikan dan mendengarkan dengan tenang ketika guru menjelaskan pelajaran yang didukung oleh alat peraga dan media (TV, Radio, Tape, VCD cerita Islami) ditunjang oleh kreativitas guru yang menarik.
Upaya-upaya yang dilakukan guru dalam memberikan pendidikan agama Islam melalui metode bercerita antara lain :
a. Selalu membiasakan anak-anak pada hal-hal yang baik dan Islami selama berlangsung kegiatan proses belajar mengajar di dalam atau di luar kelas, baik terhadap teman temannya maupun terhadap para gurunya melalui bercerita ataupun bercakap-cakap.
b. Mendidik anak-anak untuk senantiasa sopan santun dan berbakti kepada orang tua melalui cerita yang bernuansa Islami tentang anak soleh guru membaca langsung dari buku cerita.
c. Membiasakan anak-anak dengan berdo’a ketika memulai kegiatan agar terbiasa dekat dengan Tuhannya melalui buku cerita dan gambar-gambar.
Pendidikan agama Islam yang ditanamkan kepada anak didik melalui metode
bercerita sanggat membantu anak-anak untuk mengetahui dan memahami ajaran-ajaran dalam Islam. Sehingga mereka dapat mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini didukung alat bantu, seperti buku-buku cerita, gambar berseri atau kemampuan guru berimprovisasi dalam menciptakan suasana yang menyenangkan.

b. Saran - saran
Ada beberapa hal yang disampaikan oleh penulis sebagai saran, yaitu:
1. Hendaknya para guru bekerja sama dengan siswa dan orang tua dalam membimbing, membina mereka sehingga mereka selalu memiliki budi pekerti yang baik, menjadi insan kamil yang selamat kehidupannya di dunia dan akhirat.
2. Kepada guru-guru di taman kanak-kanak hendaknya mampu membimbing anak didik dengan lebih maksimal tanpa merasa cukup dengan apa yang ada dalam upaya menanamkan dan membiasakan nilai-nilai agama pada anak didik, sehingga anak terbiasa dengan amalan-amalan yang baik sesuai dengan ajaran Islam.
3. Dalam menghadapi zaman yang penuh perkembangan, peran pihak sekolah, orang tua dan lingkungan masyarakat sangat membantu pertumbuhan kepribadian anak. Karena itu hendaknya sekolah dan masyarakat mampu memainkan peranannya tersebut dengan baik.
4. Untuk mendukung keberhasilan proses pembelajaran dengan metode bercerita maka cerita akan lebih bernakna, jika dilengkapi dengan media yang sesuai dan memadai.

DAFTAR PUSTAKA


Ahmad Barja, Umar, bin, Akhlaq Lil Banin, Surabaya:PT Makhtabah Muhammad Nahban bin Ahmad, 1994.
Al-Qosimi, Jamaludin, Syekh, Mauidhatul Mu.minin, Indonesia:PT Daru Ihya Al-Kutub Al-Arabiyah, 1994.
Al-Qur.an dan Terjemahnya, Departemen Agama R.I Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur.an, Jakarta, 1993
Abdullah, J., Memilih Dongeng Islami Pada Anak, Jakarta: Amanah, 1997
Anwar, Rosihan, Drs., Ulumul Qur.an, Bandung : Pustaka Setia, 2000
Arief, Armai, M.Ag., Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan, Jakarta: Ciputat Press, 2002.
Arifin, M., Prof, H., M.Ed., Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Askara, 1999
Arief Imron, Drs., Ahmad Hidayat, Panduan Mengajar KBK di Taman Kanak-kanak, Jakarta: Insida Lantabora, 2004.
Aziz, Abdul, Mendidik Anak Dengan Cerita, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001, Cet. Ke-1
Daradjat, Zakiyah, Prof, DR., Pendidikan Islam Dalam Keluarga dan Sekolah,
Jakarta: CV Ruhama, 1995
________, Ilmu Pendidikian Islam, Jakarta: Bumi Askara, 1996
________, Kesehatan Metal, Jakarta; PT. Toko Gunung Agung, 2001
________, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Bulan Bintang, 1996
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Program Kegiatan Belajar Taman Kanak-kanak, Jakarta, 1996.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Metode Khusus Pengembangan
Kemampuan Berbahasa, Jakarta, 1996.
Ilyas, Asnelli, Mendambakan Anak Soleh, Bandung: Al-Bayan, 1997.
Marimba, Ahmad, D, Drs., Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: PT. Al- Ma.arif. 1986.
Nata, Abuddin, Drs, M A., Filsafat Pendidikan Islam, Jaklarta: Logos Wacana Ilmu, 2001.
R., Moeslichatoen, Metode Pengajaran Di Taman Kanak-kanak, Jakarta: Rineka Cipta, 2004.
Ramayulis, Prof, DR., Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 1994
Rasito, Herman, Pengantar Metodologi Penelitian, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1992.
S, Bahroin, Mendidik anak Saleh Melalui Metode Pendekatan seni Bermain, Cerita dan Menyanyi, (Jakarta: t.pn. 1995)
Shidiq, Sapiuddin, Drs, M.Ag., Tarikh Tasyri.Sejarah Pembentukan Hukum Islam, Jakarta: AMRI, 2005.
Soekanto, Seni Cerita Islami, Jakarta: Bumi Mitra Press, 2000.
Sugihastuti, Serba-serbi Cerita Anak-anak, Jakarta: Pustaka Pelajar, 1996, Cet. Ke-1
Tafsir, Ahmad, DR., Metodologi Pengajaran Agama Islam, Bandung: PT.Remaja
Rosdakarya, 2003.
Usman, Said, Drs., Jamaludin dan, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 1996.
Winda Gunarti, DAN Hapinudin dan Pedoman Perencanaan dan Evaluasi Pengajaran di Taman Kanak-kanak, Jakarta: PGTK Darul Qolam, 1996
Yunus, Mahmud, Metodik Khusus Pendidikan Agama, Jakarta: Hida Karya Agung, 1983.
Zuhairini, Dra, H., Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Askara, 1995.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

dipun sumanggaaken dumateng rencang - rencang ingkang betahaken

Selamat Datang Di GiliKidul .............. Test Online Sudah Menanti Anda ....................................!!!!!!!!!!!!! Selamat Datang Di GiliKidul .............. Test Online Sudah Menanti Anda ....................................!!!!!!!!!!!!! Selamat Datang Di GiliKidul .............. Test Online Sudah Menanti Anda ....................................!!!!!!!!!!!!! Selamat Datang Di GiliKidul .............. Test Online Sudah Menanti Anda ....................................!!!!!!!!!!!!!